Secuil Kasih Untuk Riki
Malam itu, saat bulan tersenyum
dalam balutan sutra kuning yang lembut. Didalam rumah sederhana bercat oranye…
“ Ayo kumpul, Ayah ingin berbicara dengan
kalian. “ kata Ayah sambil menatap ketiga anaknya. Ina, Andi, dan Sinta.
“ Kalian akan punya adik.”
Adik? Siapa? Bukankah adik meninggal tak lama
setelah dilahirkan Ibu, seminggu yang lalu? Ina menatap kakak laki-lakinya ;
Andi, ia terlihat bingung dan dengan malas bersandar dikursi sofa.
“ Kalian tahu tante Fatimah, kan?” tanya Ibu.
Ina tahu, Sinta barangkali tidak. Dia masih empat tahun, TK saja belum. Ina
dengar tante Fatimah meninggal sebulan yang lalu. Ia punya anak batita.
“ Anaknya tidak ada yang mengurus. Om Hasan
minta Ibu mengurus anak itu. Kalian tau kan? Om Hasan itu kuli bangunan? “
sambung Ibu.
Andi mengangguk, mengerti. Ina ngedumel,
tambah lagi pekerjaan. Sinta saja, ia repot. Apalagi ditambah anak itu! Sinta
sudah empat tahun, masih saja suka ngompol di celana. Hh, Ina tak suka dengan
tambahan pekerjaan ini. Ina sekarang kelas enam SD, sebentar lagi ujian. Kan,
harus siap-siap.
“ Apakah kalian setuju?” tanya Ayah.
“ Andi tidak keberatan, Yah.”
Uh! tentu saja tak keberatan!
Toh, kegiatannya tak pernah terganggu oleh adik baru itu. Sinta saja, tak
pernah diurinya.
“ Sinta senang punya Adik.” Tawa Sinta girang
sambil bertepuk tangan.
Ina melirik Adiknya dengan
malas.Mengurus diri sendiri saja tidak! Mau punya Adik lagi!
“ Ina?” Ibu menatap ke arah Ina.
“ Terserah Ibu saja.” jawabnya pasrah.
“ Baiklah, semuanya setuju. “ kata Ayah. “
Ayah minta bantuan kalian, Ayah punya tugas keluar kota lagi. Jadi, bantulah
Ibu. Bisa tidak?”
Kalian? Rasanya, hanya ia yang membantu Ibu. Andi, kakak
laki-lakinya ini sangat tidak penurut. Ayah lagi, ia harus terus keluar kota.
Sebulan sekali baru bisa ketemu. Ya, Ina mengerti. Kedua orang tuanya memang
sibuk untuk melunasi biaya rumah ini.
Jadilah, Adik itu mendatangi rumah ini. Ayah
memberi tahu kepada mereka nama Adik itu, namanya Riki Abdullah. Melihat Riki
yang bermata bening, hati Ina luluh.Riki begitu manis, lebih manis dari Sinta.
Matanya sedikit sipit, rambut hitamnya yang ikal lucu, kulitnya putih sekali.
Mirip orang cina!
Di siang hari yang terik ini,
bus yang ditumpangi Ina sangat pengap. Asap rokok para penumpang menyumbul
dengan batang rokok itu. Yuni, sahabat Ina mencoba menghibur Ina.
“ Kau mau minum? Aku punya botol minum kok.
Ambil saja air ini. “ kata Yuni sambil menawarkan gelas air mineral.
“ Terima kasih, kau tahu saja aku sedang haus…
“ Ina tersenyum kecil sambil membuka air kemasan gelas itu.
“ Kan panas, siapa yang tak tahan?” kata Yuni
sambil terus mengipasi lehernya dengan buku. Untung saja, mereka bisa duduk
kalau tidak ia harus berdempet-dempetan dengan orang dewasa. Bisa saja tubuh
mereka yang kecil lenyap ditelan gelombang orang-orang itu. Bus tetap berlari
kencang.
Sesampainya di rumah, Ina menjenguk Riki
ditempat tidur mininya. Hampir saja Ina terlonjak saat melihat Sinta mencubit
Riki.
“ Sinta!” Ina terlonjak sambil melepaskan
tasnya. “ Kasar sekali, jangan mencubit Riki!” digendongnya Riki yang menangis.
Dilihatnya lengan kanan Riki, merah.
“ Cup, cup, sayang. Sakit ya? Kasihan.” Ina
mengelus-elus bekas cubitan Sinta. Ina membelalakkan matanya pada Sinta. Sinta
cemberut.
“ Awas ya! jangan begitu lagi!” ancam Ina.
“ Dia yang jahat!” katanya bandel.
“ Eh, melawan. Awas ya. Pergi sana!” Ina
bersiap-siap mencubit Sinta.
Sinta berlari keluar sambil
berteriak. “ Bik! Ina jahat!”
Ina memandang Sinta. Pasti Bik
Inem pura-pura ngomel lagi.
“ Na, jangan nakal sama Adikmu!” Teriak Bik
Inem dari dapur.
Ina hampir saja tertawa
mendengar itu.Bik Inem tahu kalau Sinta memang cuma main-main.
Ina membaringkan Riki lagi. Kasihan, waktu
tidur siangnya terganggu.Sinta juga akhir-akhir ini sering mencubit Riki bila
Riki tertidur. Padahal, minggu lalu ia yang paling gembira menyambut kehadiran
Riki.
Besok ujian akhir sekolah, Ina
kembali membaca ulang semua bukunya. Bantal diletakkan disampingnya, lalu Riki
ditidurkan disana. Biarlah ia tertidur tanpa gangguan Sinta. Ina mengintip dari
balik bukunya, anak ini sangat kelelahan kelihatannya.
Tidak ada hari tanpa Riki.
“ Riki, rambut kakak jangan ditarik.” Ina
berusaha melepaskan cengkraman tangan Riki. Saat terlepas, Riki tertawa. Ina
tak bisa menahan kegemasannya pada anak ini. Digelitiknya perut Riki hingga ia
tertawa dengan keras.
“ Riki. Mau ke warung?” ajak Ina.
“ Ki au olat. (Riki mau coklat-pen)” Kata Riki cadel.
“ Iya deh, tapi syaratnya?” Ina menunggu
lanjutan dari Riki.
“ Ayang aka…”
“ Pintar…” dipeluknya erat Riki serta
menciumnya.Ia berjalan ke warung depan.
Saat kembali,Ina kembali
tersontak kaget saat melihat Sinta menarik rambut Riki.Segera dipukulnya tangan
Sinta yang terus menarik rambut lemah Riki. Riki menangis dengan kencangnya.
Ina langsung menggendong Riki. Disimpannya coklat Riki disakunya.
“ Kau ini kenapa? Tuh kan, Riki jadi nangis. “
“ Dia yang jahat. “ jawaban yang sama seperti
setahun yang lalu.
“ Jahat apanya? Ia itu masihkecil. Kau itu
sudah TK, masih saja nakal.” Ina mengelus rambut Riki lembut.
“ Hiks… Hiks… “ Loh, kok nangis sih? “ Dia itu jahat, dia ambil kakak
Ina. Kakak Ina itu kakakku, Kakak Ina!” Ia bangkit lagi dan bersiap menggigit
kaki Riki. Ina terkesiap, langsung saja ia menggendong Riki lebih tinggi.
“ Jangan gigit Riki! Cepat keluar dari kamar
kakak!” Ina mulai marah.
“ Kau mengambil kakakku…. Jahat! Kembalikan
kakakku!” katanya sambil terus berusaha meraih kaki Riki. Ina mengerti.
Dibaringkannya Riki yang berhenti menangis di tempat tidur. Kini ganti Ina
menggendong Sinta. Sinta yang menangis kaget dan memeluk erat Ina.
“ Aku sayang kakak…” Sinta memeluk Ina erat.
“ Iya, Kakak juga sayang Sinta. Jangan nakal
lagi ya?” Ina menurunkan Sinta. Ina meraih coklat dikantung sakunya.
“ Ini ada coklat. Sepotong buat Sinta,
sepotongnya lagi buat Riki , ya?” Ina menyerahkan sepotong coklat untuk Sinta.
Segera saja anak itu memakan coklat itu dengan cepat. Ina tertawa dalam hati.
Dua tahun telah berlalu. Ibu
memberi tahu Ina bahwa Om Hasan ingin kembali mengambil Riki. Ina sangat sedih
mendengar hal itu. Tetapi ia tak boleh sedih, Om Hasan berhak atas Riki. Ah,
Dua tahun itu memang berharga. Biarlah Riki kembali ke pangkuan ayahnya.
Auliah Khoirun Nisa
(Terima kasih buat Umi dan Abi telah
mengasuhku dengan kasih sayang…)
0 komentar on "CerPenKu... :)"
Posting Komentar