Jumat, 25 Januari 2013

CerPenKu... :)

Diposting oleh Unknown di 18.22

Secuil Kasih Untuk Riki
Malam itu, saat bulan tersenyum dalam balutan sutra kuning yang lembut. Didalam rumah sederhana bercat oranye…
 “ Ayo kumpul, Ayah ingin berbicara dengan kalian. “ kata Ayah sambil menatap ketiga anaknya. Ina,  Andi, dan Sinta.
 “ Kalian akan punya adik.”
 Adik? Siapa? Bukankah adik meninggal tak lama setelah dilahirkan Ibu, seminggu yang lalu? Ina menatap kakak laki-lakinya ; Andi, ia terlihat bingung dan dengan malas bersandar dikursi sofa.
 “ Kalian tahu tante Fatimah, kan?” tanya Ibu. Ina tahu, Sinta barangkali tidak. Dia masih empat tahun, TK saja belum. Ina dengar tante Fatimah meninggal sebulan yang lalu. Ia punya anak  batita.
 “ Anaknya tidak ada yang mengurus. Om Hasan minta Ibu mengurus anak itu. Kalian tau kan? Om Hasan itu kuli bangunan? “ sambung Ibu.
 Andi mengangguk, mengerti. Ina ngedumel, tambah lagi pekerjaan. Sinta saja, ia repot. Apalagi ditambah anak itu! Sinta sudah empat tahun, masih saja suka ngompol di celana. Hh, Ina tak suka dengan tambahan pekerjaan ini. Ina sekarang kelas enam SD, sebentar lagi ujian. Kan, harus siap-siap.
 “ Apakah kalian setuju?” tanya Ayah.
 “ Andi tidak keberatan, Yah.”
Uh! tentu saja tak keberatan! Toh, kegiatannya tak pernah terganggu oleh adik baru itu. Sinta saja, tak pernah diurinya.
 “ Sinta senang punya Adik.” Tawa Sinta girang sambil bertepuk tangan.
Ina melirik Adiknya dengan malas.Mengurus diri sendiri saja tidak! Mau punya Adik lagi!
 “ Ina?” Ibu menatap ke arah Ina.
 “ Terserah Ibu saja.” jawabnya pasrah.
 “ Baiklah, semuanya setuju. “ kata Ayah. “ Ayah minta bantuan kalian, Ayah punya tugas keluar kota lagi. Jadi, bantulah Ibu. Bisa tidak?”
muslimah kartun.jpg
Kalian? Rasanya, hanya ia yang membantu Ibu. Andi, kakak laki-lakinya ini sangat tidak penurut. Ayah lagi, ia harus terus keluar kota. Sebulan sekali baru bisa ketemu. Ya, Ina mengerti. Kedua orang tuanya memang sibuk untuk melunasi biaya rumah ini.

 Jadilah, Adik itu mendatangi rumah ini. Ayah memberi tahu kepada mereka nama Adik itu, namanya Riki Abdullah. Melihat Riki yang bermata bening, hati Ina luluh.Riki begitu manis, lebih manis dari Sinta. Matanya sedikit sipit, rambut hitamnya yang ikal lucu, kulitnya putih sekali. Mirip orang cina!
muslimah kartun.jpg Otomatis, tugas Ina bertambah. Membantu mengurusi Riki. Bila Ibu tak sempat, ia yang memandikan dan mengganti popok Riki. Kasihan Ibu, pulang kantor larut malam.Untung saja masih ada Bik Inem, perempuan berusia senja ini yang sangat berjasa membantu pekerjaan rumah. Ia memasak, mengepel rumah, mencuci piring dan setumpuk pekerjaan rumah lainnya.


Di siang hari yang terik ini, bus yang ditumpangi Ina sangat pengap. Asap rokok para penumpang menyumbul dengan batang rokok itu. Yuni, sahabat Ina mencoba menghibur Ina.
 “ Kau mau minum? Aku punya botol minum kok. Ambil saja air ini. “ kata Yuni sambil menawarkan gelas air mineral.
 “ Terima kasih, kau tahu saja aku sedang haus… “ Ina tersenyum kecil sambil membuka air kemasan gelas itu.
 “ Kan panas, siapa yang tak tahan?” kata Yuni sambil terus mengipasi lehernya dengan buku. Untung saja, mereka bisa duduk kalau tidak ia harus berdempet-dempetan dengan orang dewasa. Bisa saja tubuh mereka yang kecil lenyap ditelan gelombang orang-orang itu. Bus tetap berlari kencang.
muslimah kartun.jpg

 Sesampainya di rumah, Ina menjenguk Riki ditempat tidur mininya. Hampir saja Ina terlonjak saat melihat Sinta mencubit Riki.
 “ Sinta!” Ina terlonjak sambil melepaskan tasnya. “ Kasar sekali, jangan mencubit Riki!” digendongnya Riki yang menangis. Dilihatnya lengan kanan Riki, merah.
 “ Cup, cup, sayang. Sakit ya? Kasihan.” Ina mengelus-elus bekas cubitan Sinta. Ina membelalakkan matanya pada Sinta. Sinta cemberut.
 “ Awas ya! jangan begitu lagi!” ancam Ina.
 “ Dia yang jahat!” katanya bandel.
 “ Eh, melawan. Awas ya. Pergi sana!” Ina bersiap-siap mencubit Sinta.
Sinta berlari keluar sambil berteriak. “ Bik! Ina jahat!”
Ina memandang Sinta. Pasti Bik Inem pura-pura ngomel lagi.
 “ Na, jangan nakal sama Adikmu!” Teriak Bik Inem dari dapur.
Ina hampir saja tertawa mendengar itu.Bik Inem tahu kalau Sinta memang cuma main-main.
 Ina membaringkan Riki lagi. Kasihan, waktu tidur siangnya terganggu.Sinta juga akhir-akhir ini sering mencubit Riki bila Riki tertidur. Padahal, minggu lalu ia yang paling gembira menyambut kehadiran Riki.
muslimah kartun.jpg

Besok ujian akhir sekolah, Ina kembali membaca ulang semua bukunya. Bantal diletakkan disampingnya, lalu Riki ditidurkan disana. Biarlah ia tertidur tanpa gangguan Sinta. Ina mengintip dari balik bukunya, anak ini sangat kelelahan kelihatannya.
Tidak ada hari tanpa Riki.
 “ Riki, rambut kakak jangan ditarik.” Ina berusaha melepaskan cengkraman tangan Riki. Saat terlepas, Riki tertawa. Ina tak bisa menahan kegemasannya pada anak ini. Digelitiknya perut Riki hingga ia tertawa dengan keras.
 “ Riki. Mau ke warung?” ajak Ina.
 “ Ki au olat. (Riki mau coklat-pen)”  Kata Riki cadel.
 “ Iya deh, tapi syaratnya?” Ina menunggu lanjutan dari Riki.
 “ Ayang aka…”
 “ Pintar…” dipeluknya erat Riki serta menciumnya.Ia berjalan ke warung depan.
Saat kembali,Ina kembali tersontak kaget saat melihat Sinta menarik rambut Riki.Segera dipukulnya tangan Sinta yang terus menarik rambut lemah Riki. Riki menangis dengan kencangnya. Ina langsung menggendong Riki. Disimpannya coklat Riki disakunya.
 “ Kau ini kenapa? Tuh kan, Riki jadi nangis. “
 “ Dia yang jahat. “ jawaban yang sama seperti setahun yang lalu.
 “ Jahat apanya? Ia itu masihkecil. Kau itu sudah TK, masih saja nakal.” Ina mengelus rambut Riki lembut.
  “ Hiks… Hiks… “ Loh, kok nangis sih? “ Dia itu jahat, dia ambil kakak Ina. Kakak Ina itu kakakku, Kakak Ina!” Ia bangkit lagi dan bersiap menggigit kaki Riki. Ina terkesiap, langsung saja ia menggendong Riki lebih tinggi.
 “ Jangan gigit Riki! Cepat keluar dari kamar kakak!” Ina mulai marah.
 “ Kau mengambil kakakku…. Jahat! Kembalikan kakakku!” katanya sambil terus berusaha meraih kaki Riki. Ina mengerti. Dibaringkannya Riki yang berhenti menangis di tempat tidur. Kini ganti Ina menggendong Sinta. Sinta yang menangis kaget dan memeluk erat Ina.
 “ Aku sayang kakak…” Sinta memeluk Ina erat.
 “ Iya, Kakak juga sayang Sinta. Jangan nakal lagi ya?” Ina menurunkan Sinta. Ina meraih coklat dikantung sakunya.
 “ Ini ada coklat. Sepotong buat Sinta, sepotongnya lagi buat Riki , ya?” Ina menyerahkan sepotong coklat untuk Sinta. Segera saja anak itu memakan coklat itu dengan cepat. Ina tertawa dalam hati.
muslimah kartun.jpg

Dua tahun telah berlalu. Ibu memberi tahu Ina bahwa Om Hasan ingin kembali mengambil Riki. Ina sangat sedih mendengar hal itu. Tetapi ia tak boleh sedih, Om Hasan berhak atas Riki. Ah, Dua tahun itu memang berharga. Biarlah Riki kembali ke pangkuan ayahnya.
Auliah Khoirun Nisa
(Terima kasih buat Umi dan Abi telah mengasuhku dengan kasih sayang…)

0 komentar on "CerPenKu... :)"

Posting Komentar

 

Welcome to my blog! Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez