Maafkan Aku Ayah…
Arini menyeka air matanya yang
mengalir deras di pipinya, bagaimana tidak sedih. Ibunya yang ia cintai telah
meninggal malam tadi. Langit terasa ingin runtuh, ia bagaikan hanya sendiri di
dunia ini.
“ Sudahlah, relakan Ibu disana.” Hibur Ayah.
Beliau memang sangat menghibur bagi Arini.
“ Aku pikir, Aku sendiri di dunia ini. Ibu
meninggal ,Yah…”
“ Ya, Ayah tau… Ayah juga ngerasa begitu
sewaktu Nenek meninggal… Semua terasa tidak ada… Arini harus kuat, bisa bisa
Ibu sedih liat anaknya seperti gini… “
Ayah memang sangat pengertian.Walaupun
hanya bekerja di perusahaan roti, Ayah selalu berusaha membuat Arini senang
dengan membelikannya permen sewaktu pulang dari bekerja.
Seminggu kemudian, Ayah kembali bekerja
seperti biasa. Tetapi, anehnya saat Ayah pulang kerja Ayah tidak bersemangat.
Melihat itu, Arini berlari memeluk Ayah.
“ Ada permen lagi?”
Ayah tersenyum sambil menyeka
keringatnya yang mengalir deras di dahinya.
“ Tak ada permen lagi ,sayang. Besok lagi ya?
“
Arini sedikit sedih
mendengarnya. Tetapi ia menyabarkan dirinya sendiri.
“ Tidak apa-apa, Ayah. Aku tidak sedih. Yang
penting, Ayah pulang ke rumah. Oh ya, Nenek Rum tadi kasi Aku Puding coklat,
Enak. Nenek Rum juga ngasi ikan
goreng dengan sambel.”
Ayah menghembuskan nafasnya.
Anaknya kini sudah cukup kuat. Mampu menghadapi segalanya tanpa tangisan. Ayah
mengingat betul, sebelum Rahmah meninggal,
anak ini sangat manja__ seperti anak tunggal lain__ ia selalu menangis
bila tidak diberikan permen saat ia pulang dari bekerja.
“ Ayah…” Arini yang masih kelas tiga SD itu
memelas lagi. “ Aku punya PR IPA, tugasnya cari gambar di internet tentang
hewan yang bernafas dengan insan. “
“ Tunggu dulu ya… Ayah mau ganti baju, solat
duhur, terus kita makan. “ Arini sudah cukup mengerti rupanya. Ia mengambil tas
Ayahnya, yang berisi air minum dan tempat bekal yang tadinya berisi roti.
Ayah menghela nafas, Arini tak
tahu bahwa dirinya telah dipecat. Bahan pembuatan roti yang terlalu mahal
membuat perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Pekerja disana sebagian dipecat.
Tetapi mengapa ia yang harus dipecat?
“ Ayah… “ Kata Arini memelas.
“ Ya? “ Ayah yang sedang makan berhenti dan
menatap Arini.
“ Nenek Rum mengatakan bahwa kita adalah orang
yang tidak beruntung.”
“ Mengapa?” Ayah terpancing.
“ Kita tinggal berdua.”
“ Nenek Rum lebih kasihan dibanding kita.Ia
sudah tua, hanya bibi Fatimah saja yang merawatnya. Dan kita? Kita masih kuat,
masih muda.” Arini kini mengerti. Diambilnya ikan goreng dan memakannya dengan
nasi. Nenek Rum memang baik. Ia selalu menyisihkan makanan untuk Ayah dan
dirinya.

Tahun demi tahun berlalu, Arini
sudah menjadi gadis yang cantik. Ayahnya, yang kini membuka bisnis roti di
salah satu mall terkenal. Mereka masih menempati rumah mereka yang dulu. Ini
sesuai dengan wasiat Ibu agar tidak menjual rumah itu. Arini, yang kini sedang
menjalani kuliah sudah menjadi salah satu mahasiswi yang cerdas. Ia menerima
beasiswa sehingga tidak membebani Ayahnya, walaupun mereka bisa dibilang orang
yang kaya dikota itu.
Pada malam harinya, sesudah
salat isya…
“ Ayah, besok Aku akan diwisuda. Aku
menginginkan Ayah membelikanku mobil. Bisakah? “
“ Ya, tentu anakku. Apapun yang kau minta,
akan Aku penuhi. Bersiap-siaplah. Besok kau akan diwisuda. Aku tak sabar
melihat namamu terpampang di nama-nama mahasiswi yang terbaik. Kuharap kau
mendapatkannya. “
“ Ya, akan kuusahakan. Aku ingin Ayah datang.
“ kata Arini sambil menciumi tangan Ayahnya. “ Doakan aku.”
“ Tentu anakku. Doaku terus menyertaimu.”
Hari wisuda yang paling ditunggu
tunggu Arini. Ia mengenakan baju wisudanya dan toganya.
“ Ayah, pergilah ke wisudaku.”
“ Tentu… Nanti ayah akan datang.“
“ Berjanjilah, Ayah… “
“ Ayah janji.”
“ Baiklah Ayah. Aku akan pergi. Jaga diri baik-baik.
Aku akan berangkat bersama temanku.” Kata Arini melambaikan tangannya kepada Ayahnya.
Temannya sedari tadi menunggu dari luar.
“ Kok lama banget?”
kata teman Arini,
“ Tak apa-apa, Aku tadi berbicara dengan Ayahku.”
Merekapun naik ke mobil.
Kendaraan ini sangat disukai Arini, dan Arini yakin pastilah Ayahnya
membelikannya.
Arini tak percaya, namanya naik
dalam mahasiswi terbaik. Bahkan, juara pertama! Melihat itu, Ayahnya dengan
mata yang berkaca-kaca menyambut anaknya.
“ Arini, kau hebat nak! Kau dapat juara
pertama! “ Kata Ayahnya sambil memakaikannya jaket.
Arini mencium tangan Ayahnya. Ia
merasa sedih, Ayahnya tak membelikannya mobil. Ditatapnya jaket coklat itu, “
Ah hanya ini yang bisa Ayah berikan.” kata Arini dalam hati. Arini tak ingin
Ayah tahu, bahwa ia sedih. Tak boleh.
“ Ayah, dosen memberikanku pekerjaan berat.
Aku harus keluar negeri untuk mengurusinya.” Ia menerima jaket itu dengan
sedikit sedih.
“ Ya, semoga sukses, Anakku.” kata Ayah.
Arini berlari sambil menangis,
ia tak percaya. Ayahnya sangat pelit. Ayahnya tak membelikannya mobil. Ia
simpan jaket itu dikursi yang agak jauh dari Ayahnya. Padahal Ayahnya bisa
dibilang kaya. Ia memaki-maki Ayahnya. Ia sangat benci pada Ayahnya.
“ Ayah jahat, Ayah pelit. Ayah dahulu
membahagiakanku dengan permen, tapi sekaran? mengapa mobil Ayah tak mau
melakukannya? Ayah kaya, Ayah itu kaya. Kenapa? Kenapa?” Katanya dalam tangis.
Ia merasa, ia telah mengetahui sifat asli Ayahnya, yaitu tak menyayanginya. “
Ayah tidak sayang lagi sama Aku. Apakah setelah dewasa kasih sayang orang tua
pada anaknya hilang? Tentu tidak. Tapi, mengapa Ayah melakukan ini padaku?
Kenapa?”
Akhirnya, ia terbang ke
Malaysia. Ia berencana menetap disana.

“ Mommy, kenape Aku tak punya Atok? Teman
teman Aku semue punye Atok. “
“ Kakek ada di Indonesia sayang…”
“ Biarlah Arini, Kite kesanelah sekali. Aku
nak tengok.”
“ Ya, minggu ini kita kesana.”
Arini memiliki suami orang
malaysia. Anaknya sangat ingin bertemu dengan Ayah Arini. Akhirnya, Ia pulang
ke Indonesia. Tetapi, Ia heran melihat rumah Ayahnya kosong. Didepan rumahnya
terdapat mobil Avansa merah yang masih terbungkus, tapi telah berdebu. Ia
bertanya pada Bibi Fatimah.
“ Assalamu alaikum…”
“ Waalaikumu ssalam…” Bibi Fatimah membuka
pagar. “ Siapa yah?”
“ Saya Arini Bi, Anaknya Pak ikhlas…” Katanya
mengingatkan. “ Ayah saya kemana? Kok
tidak ada di rumah?”
“ Arini? Oh, Ayahmu sudah meninggal nak… “
katanya dengan nada sedih. Ia masuk kerumah. “Ini kunci rumahmu.”
Arini tak kuasa menahan
tangisnya. Ayahnya telah meninggal dunia.
“ Krek…” Dibukanya pintu rumahnya. Di ruang
tamu, terdapat jaket coklat yang diberikan Ayahnya padanya, tetapi ia
menolaknya. Ia meraba-raba kantong jaket itu, ada sesuatu yang menonjol. Kunci
mobil!
Ia meratap, Ia menangisi
kebodohanya di masa lalu. Ia menolak pemberian Ayahnya yang ternyata didalamnya
ada sebuah rahasia yang dipersiapkan Ayahnya. Ia meratap… meratap. Tetapi itu
semua tiada guna, nasi sudah menjadi bubur…
Arini membuka pintu, mencoba membuka pintu
mobil merah itu dan menyalakannya. Masih menyala! Arini yang masih sedih
meratapi kepergian Ayahnya yang ternyata amat sayang padanya.
“ Ayah… Ayah… maafkan anakmu ini Ayah… Anakmu
ini hina. Anakmu ini bodoh. Anakmu ini durhaka.” Ia menangis sejadi-jadinya
tanpa menghiraukan anak dan suaminya yang terpaku didepan pagar.
PESAN : JANGANLAH KAU MEMBENCI
ORANG TUAMU, SEBAB DIBALIK SEMUANYA ADA KASIH SAYANG YANG INGIN IA BERIKAN
0 komentar on "Kisah Mengharukan Tentang Orang Tua... Read it guys!!!"
Posting Komentar