Jumat, 25 Januari 2013

Kisah Mengharukan Tentang Orang Tua... Read it guys!!!

Diposting oleh Unknown di 18.36

Maafkan Aku Ayah…
Arini menyeka air matanya yang mengalir deras di pipinya, bagaimana tidak sedih. Ibunya yang ia cintai telah meninggal malam tadi. Langit terasa ingin runtuh, ia bagaikan hanya sendiri di dunia ini.
 “ Sudahlah, relakan Ibu disana.” Hibur Ayah. Beliau memang sangat menghibur bagi Arini.
 “ Aku pikir, Aku sendiri di dunia ini. Ibu meninggal ,Yah…”
 “ Ya, Ayah tau… Ayah juga ngerasa begitu sewaktu Nenek meninggal… Semua terasa tidak ada… Arini harus kuat, bisa bisa Ibu sedih liat anaknya seperti gini… “
Ayah memang sangat pengertian.Walaupun hanya bekerja di perusahaan roti, Ayah selalu berusaha membuat Arini senang dengan membelikannya permen sewaktu pulang dari bekerja.
Seminggu kemudian, Ayah kembali bekerja seperti biasa. Tetapi, anehnya saat Ayah pulang kerja Ayah tidak bersemangat. Melihat itu, Arini berlari memeluk Ayah.
 “ Ada permen lagi?”
Ayah tersenyum sambil menyeka keringatnya yang mengalir deras di dahinya.
 “ Tak ada permen lagi ,sayang. Besok lagi ya? “
Arini sedikit sedih mendengarnya. Tetapi ia menyabarkan dirinya sendiri.
 “ Tidak apa-apa, Ayah. Aku tidak sedih. Yang penting, Ayah pulang ke rumah. Oh ya, Nenek Rum tadi kasi Aku Puding coklat, Enak. Nenek Rum juga ngasi ikan goreng dengan sambel.”
Ayah menghembuskan nafasnya. Anaknya kini sudah cukup kuat. Mampu menghadapi segalanya tanpa tangisan. Ayah mengingat betul, sebelum Rahmah meninggal,  anak ini sangat manja__ seperti anak tunggal lain__ ia selalu menangis bila tidak diberikan permen saat ia pulang dari bekerja.
 “ Ayah…” Arini yang masih kelas tiga SD itu memelas lagi. “ Aku punya PR IPA, tugasnya cari gambar di internet tentang hewan yang bernafas dengan insan. “
 “ Tunggu dulu ya… Ayah mau ganti baju, solat duhur, terus kita makan. “ Arini sudah cukup mengerti rupanya. Ia mengambil tas Ayahnya, yang berisi air minum dan tempat bekal yang tadinya berisi roti.
Ayah menghela nafas, Arini tak tahu bahwa dirinya telah dipecat. Bahan pembuatan roti yang terlalu mahal membuat perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Pekerja disana sebagian dipecat. Tetapi mengapa ia yang harus dipecat?
 “ Ayah… “ Kata Arini memelas.
 “ Ya? “ Ayah yang sedang makan berhenti dan menatap Arini.
 “ Nenek Rum mengatakan bahwa kita adalah orang yang tidak beruntung.”
 “ Mengapa?” Ayah terpancing.
 “ Kita tinggal berdua.”
 “ Nenek Rum lebih kasihan dibanding kita.Ia sudah tua, hanya bibi Fatimah saja yang merawatnya. Dan kita? Kita masih kuat, masih muda.” Arini kini mengerti. Diambilnya ikan goreng dan memakannya dengan nasi. Nenek Rum memang baik. Ia selalu menyisihkan makanan untuk Ayah dan dirinya.
cahaya.jpg

Tahun demi tahun berlalu, Arini sudah menjadi gadis yang cantik. Ayahnya, yang kini membuka bisnis roti di salah satu mall terkenal. Mereka masih menempati rumah mereka yang dulu. Ini sesuai dengan wasiat Ibu agar tidak menjual rumah itu. Arini, yang kini sedang menjalani kuliah sudah menjadi salah satu mahasiswi yang cerdas. Ia menerima beasiswa sehingga tidak membebani Ayahnya, walaupun mereka bisa dibilang orang yang kaya dikota itu.
Pada malam harinya, sesudah salat isya…
 “ Ayah, besok Aku akan diwisuda. Aku menginginkan Ayah membelikanku mobil. Bisakah? “
 “ Ya, tentu anakku. Apapun yang kau minta, akan Aku penuhi. Bersiap-siaplah. Besok kau akan diwisuda. Aku tak sabar melihat namamu terpampang di nama-nama mahasiswi yang terbaik. Kuharap kau mendapatkannya. “
 “ Ya, akan kuusahakan. Aku ingin Ayah datang. “ kata Arini sambil menciumi tangan Ayahnya. “ Doakan aku.”
 “ Tentu anakku. Doaku terus menyertaimu.”
Hari wisuda yang paling ditunggu tunggu Arini. Ia mengenakan baju wisudanya dan toganya.
 “ Ayah, pergilah ke wisudaku.”
 “ Tentu… Nanti ayah akan datang.“
 “ Berjanjilah, Ayah… “
 “ Ayah janji.”
 “ Baiklah Ayah. Aku akan pergi. Jaga diri baik-baik. Aku akan berangkat bersama temanku.” Kata Arini melambaikan tangannya kepada Ayahnya. Temannya sedari tadi menunggu dari luar.
 “ Kok lama banget?” kata teman Arini,
 “ Tak apa-apa, Aku tadi berbicara dengan Ayahku.”
cahaya.jpgMerekapun naik ke mobil. Kendaraan ini sangat disukai Arini, dan Arini yakin pastilah Ayahnya membelikannya.


Arini tak percaya, namanya naik dalam mahasiswi terbaik. Bahkan, juara pertama! Melihat itu, Ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca menyambut anaknya.
 “ Arini, kau hebat nak! Kau dapat juara pertama! “ Kata Ayahnya sambil memakaikannya jaket.
Arini mencium tangan Ayahnya. Ia merasa sedih, Ayahnya tak membelikannya mobil. Ditatapnya jaket coklat itu, “ Ah hanya ini yang bisa Ayah berikan.” kata Arini dalam hati. Arini tak ingin Ayah tahu, bahwa ia sedih. Tak boleh.
 “ Ayah, dosen memberikanku pekerjaan berat. Aku harus keluar negeri untuk mengurusinya.” Ia menerima jaket itu dengan sedikit sedih.
 “ Ya, semoga sukses, Anakku.” kata Ayah.
Arini berlari sambil menangis, ia tak percaya. Ayahnya sangat pelit. Ayahnya tak membelikannya mobil. Ia simpan jaket itu dikursi yang agak jauh dari Ayahnya. Padahal Ayahnya bisa dibilang kaya. Ia memaki-maki Ayahnya. Ia sangat benci pada Ayahnya.
 “ Ayah jahat, Ayah pelit. Ayah dahulu membahagiakanku dengan permen, tapi sekaran? mengapa mobil Ayah tak mau melakukannya? Ayah kaya, Ayah itu kaya. Kenapa? Kenapa?” Katanya dalam tangis. Ia merasa, ia telah mengetahui sifat asli Ayahnya, yaitu tak menyayanginya. “ Ayah tidak sayang lagi sama Aku. Apakah setelah dewasa kasih sayang orang tua pada anaknya hilang? Tentu tidak. Tapi, mengapa Ayah melakukan ini padaku? Kenapa?”
Akhirnya, ia terbang ke Malaysia. Ia berencana menetap disana.
cahaya.jpg

 “ Mommy, kenape Aku tak punya Atok? Teman teman Aku semue punye Atok. “
 “ Kakek ada di Indonesia sayang…”
 “ Biarlah Arini, Kite kesanelah sekali. Aku nak tengok.”
  “ Ya, minggu ini kita kesana.”
Arini memiliki suami orang malaysia. Anaknya sangat ingin bertemu dengan Ayah Arini. Akhirnya, Ia pulang ke Indonesia. Tetapi, Ia heran melihat rumah Ayahnya kosong. Didepan rumahnya terdapat mobil Avansa merah yang masih terbungkus, tapi telah berdebu. Ia bertanya pada Bibi Fatimah.
 “ Assalamu alaikum…”
 “ Waalaikumu ssalam…” Bibi Fatimah membuka pagar. “ Siapa yah?”
 “ Saya Arini Bi, Anaknya Pak ikhlas…” Katanya mengingatkan. “ Ayah saya kemana? Kok tidak ada di rumah?”
 “ Arini? Oh, Ayahmu sudah meninggal nak… “ katanya dengan nada sedih. Ia masuk kerumah. “Ini kunci rumahmu.”
Arini tak kuasa menahan tangisnya. Ayahnya telah meninggal dunia.
 “ Krek…” Dibukanya pintu rumahnya. Di ruang tamu, terdapat jaket coklat yang diberikan Ayahnya padanya, tetapi ia menolaknya. Ia meraba-raba kantong jaket itu, ada sesuatu yang menonjol. Kunci mobil!
Ia meratap, Ia menangisi kebodohanya di masa lalu. Ia menolak pemberian Ayahnya yang ternyata didalamnya ada sebuah rahasia yang dipersiapkan Ayahnya. Ia meratap… meratap. Tetapi itu semua tiada guna, nasi sudah menjadi bubur…
 Arini membuka pintu, mencoba membuka pintu mobil merah itu dan menyalakannya. Masih menyala! Arini yang masih sedih meratapi kepergian Ayahnya yang ternyata amat sayang padanya.
 “ Ayah… Ayah… maafkan anakmu ini Ayah… Anakmu ini hina. Anakmu ini bodoh. Anakmu ini durhaka.” Ia menangis sejadi-jadinya tanpa menghiraukan anak dan suaminya yang terpaku didepan pagar.
PESAN : JANGANLAH KAU MEMBENCI ORANG TUAMU, SEBAB DIBALIK SEMUANYA ADA KASIH SAYANG YANG INGIN IA BERIKAN


0 komentar on "Kisah Mengharukan Tentang Orang Tua... Read it guys!!!"

Posting Komentar

 

Welcome to my blog! Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez